ABSTRACT

         

          The study investigated the contributions of the individual and social factors in determining loneliness in pre-adolescents and adolescents who perceived by their classmates had been experiencing peer victimization. The individual factors involved self-esteem and temperament. The temperament itself was measured in four factors, which were surgency, effortful control, affiliativeness, and negative affectivity. The measured social factors were peer acceptance, the quality of friendship, and parenting style. Participants were 146 fifth (pre-adolescents, M = 9.74 years old) and 184 ninth grade (adolescents, M = 13.5 years old) students whose according their classmates had been victimized in classroom/ school setting.

There were negative correlations between peer-report victimization intensity and peer acceptance found in each group participants. Further, regression analysis found significant differences of how the individual and social factors determining loneliness in each group. Self esteem was the only variable in the individual factor which significantly contributed to loneliness in peer-perceived victimized pre-adolescents. Self esteem itself was positively related with effortful control and affiliativeness factors of temperament.

In peer perceived victimized adolescent group, however, the surgency factor of the temperament (individual factors) together with having nurtured parents and good quality of friendship (social factors) were found to contribute negatively to the self-reported loneliness.

Small contribution of self esteem to the variability of loneliness in pre-adolescents, however, cautiously indicated that there were other factors which were not included in the study.

 

(To be presented in the 2nd convention of APsyA, 26-28 June 2008, Kuala Lumpur)

BELAJAR (LEARNING)

 

 

Belajar (learning): perubahan perilaku yang relatif menetap yang terjadi melalui pengalaman.

 

Belajar ada dua macam:

-          Observational learning: pembelajaran diperoleh dengan mengamati apa yang orang lain lakukan dan katakan.

-          Associative learning: pembelajaran dilakukan dengan melakukan suatu koneksi atau asosiasi antara dua peristiwa.

 

Pengondisian (Conditioning): merupakan suatu proses mempelajari asosiasi.

Terdapat dua jenis pengondisian:

  1. Pengondisian klasikal (classical conditioning): organisma mempelajari asosiasi antara dua stimulus. Melalui hasil asosiasi ini, organisma belajar untuk melakukan antisipasi atas suatu peristiwa. Misalnya: segera menutup telinga saat melihat kilatan petir à antisipasi suara guntur yang memekakkan telinga.
  2. Pengondisian operan (operant conditioning): organisma mempelajari asosiasi antara suatu perilaku dan konsekuensi/ akibat dari perilaku tersebut. Misal: belajar tekun (perilaku) menghasilkan nilai yang tinggi (konsekuensi). Sebagai akibat pengetahuan akan asosiasi ini, organisma belajar meningkatkan perilaku yang diikuti oleh pemberian penghargaan (rewards) dan mengurangi perilaku yang menghasilkan hukuman (punishments).  

Contoh:

Anak akan mempertahankan perilaku mencium tangan saat bertemu dengan orang dewasa karena ia mendapat pujian ”anak manis” atau ”anak pintar” dari orangtuanya dan dari orang dewasa lainnya.

 

            Anak batita belajar untuk mengatakan ”pipis” atau ”pup” karena ia mendapat teguran dari orangtua/ pengasuh saat BAB/ BAK di celana atau merasa tidak nyaman dengan celananya yang basah dan kotor.

 

Belajar tidak hanya penting dalam kehidupan manusia tetapi juga penting bagi binatang. Untuk tetap dapat bertahan dan berfungsi di dunianya, binatang-binatang seperti tikus dan kelinci harus belajar dan beradaptasi seperti layaknya manusia. Banyak penelitian tentang belajar dilakukan pada hewan. Prinsip-prinsip belajar yang diperoleh dari penelitian tersebut dapat diterapkan pada manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

            Pengondisian Klasikal (Classical Conditioning)

 

Studi Pavlov

 

Seorang Fisiologis Rusia Ivan Pavlov pada tahun 1900 an melakukan penelitian tentang bagaimana tubuh mencerna makanan. Di awal penelitiannya, ia secara teratur meletakan bubuk daging ke dalam mulut seekor anjing, yang kemudian membuat anjing tersebut mengeluarkan air liur. Kemudian, Pavlov berpendapat bahwa makanan tersebut bukanlah satu-satunya stimulus yang membuat anjing tsb mengeluarkan liurnya.

Liur anjing tersebut merupakan suatu respon terhadap sejumlah stimulus yang diasosiasikan dengan makanan, seperti tampilnya mangkuk makanan, munculnya individu yang membawa makanan ke dalam ruangan, dan suara pintu yang menutup saat makanan tsb datang.  Asosiasi yang dilakukan anjing terhadap stimulus mangkuk, sosok yang membawa makanan, dan suara pintu dengan makanan merupakan contoh pengondisian klasik. 

Pavlov melihat bahwa perilaku anjing meliputi komponen-komponen yang dipelajari (learned) dan yang tidak dipelajari (unlearned). Bagian yang tidak dipelajari (unlearned) dari pengondisian klasik berdasarkan pada fakta bahwa sejumlah stimuli secara otomatis menghasilkan respons tertentu terpisah dari segala bentuk pembelajaran sebelumnya, merupakan hal bawaan (inborn) atau terberi (innate) dari organisma tsb. Refleks merupakan hubungan yang otomatis antara stimulus-response. Pada anjing Pavlov, refleks terlihat pada keluarnya air liur sebagai respon terhadap makanan. Contoh lain dari refleks antara lain rasa mual saat mencium makanan basi/ busuk, tubuh menggigil saat kedinginan, batuk saat kerongkongan terasa gatal, dan menyempitnya pupil saat melihat cahaya yang menyilaukan.

 

Unconditioned Stimulus/ UCS: merupakan stimulus yang menghasilkan suatu respons tanda adanya proses pembelajaran sebelumnya. Makanan dalam eksperimen Pavlov merupakan UCS.

 

Uncoditioned Response (UCR): merupakan suatu respon yang tidak dipelajari yang secara otomatis dimunculkan oleh UCS. Pada eksperimen Pavlov, liur yang keluar dan menetes dari mulut anjing Pavlov adalah UCR.

           

 

 

Stimulus yang dikondisikan (Conditioned Stimulus/ CS): merupakan stimulus yang sebelumnya netral namun akhirnya mendatangkan respons yang terkondisi (UR) setelah diasosiasikan dengan UCS.

 

Respons yang dikondisikan (Conditioned Response/ CR): merupakan repons yang dipelajari terhadap stimulus yang terkondisi yang timbul setelah pemasangan CS – UCS.

 

 

 

 

Acquisition (Pemerolehan)

Acquisition dalam classical conditioning merupakan periode pembelajaran hubungan stimulus-respons. Hal ini meliputi suatu stimulus netral yang diasosiasikan dengan UCS dan kemudian menjadi CS yang mendatangkan CR. Dua aspek acquisition yang penting adalah: timing (waktu) dan contingency/ predictability (kebetulan/ dapat diramalkan).

Waktu interval (timing) antara CS dan UCS merupakan satu aspek penting dalam classical conditioning. Interval waktu menjelaskan kontak (contiguity) atau keterkaitan antara waktu dan ruang suatu stimuli.  Conditioned response (CR) berkembang ketika CS dan UCS berhubungan, dan muncul dengan selang waktu berdekatan. Terdapat rentang waktu optimal, dimana organisma kemudian melakukan hubungan antara CS dan CR. Pada eksperimen Pavlov, apabila bel baru berbunyi 20 menit setelah makanan tersaji, anjing tidak akan menghubungkan bunyi bel dengan kehadiran makanan.

Selama acquisition, suatu CS harus dipasangkan dengan UCS beberapa kali untuk membangun suatu CR yang kuat. Bunyi bel dapat segera menjadi CS jika diiringi dengan pemberian makanan. Namun, jika UCS intens dan menyakitkan, seperti kejutan listrik (electric shock) atau situasi/ peristiwa yang traumatik, maka conditioning dapat terjadi walaupun hanya terjadi satu kali pemasangan CS-UCS. Rangkaian dan interval waktu CS-UCS juga memengaruhi conditioning. Pembelajaran biasanya  timbul dengan cepat setelah terjadi penundaan singkat (delayed conditioning) dalam pemasangan CS-UCS. Misalnya bunyi bel (CS) mucul pertama kali dan tetap berbunyi hingga makanan (UCS) muncul. Pada delayed conditioning, kehadiran CS mendahului muculnya US

Pada pemasangan maju (forward pairing/ forward conditioning), bel mungkin akan berbunyi atau tidak berbunyi, dan kemudian segera diikuti  dengan pemberian makanan. Yang terbaik adalah CS diberikan dua atau tiga detik sebelum UCS. Pemasangan maju memiliki nilai adaptif karena hadirnya CS merupakan sinyal akan munculnya UCS. Di sisi lain, menghadirkan CS and UCS secara bersamaan (simultaneous conditioning/ simultaneous pairing) membuat pengondisian terjadi kurang cepat. Hal ini antara lain disebabkan subyek tidak memiliki waktu untuk mengantisipasi UCS, dan CS (bel) tidak dinggap bagian dari UCS.  danPembelajaran sangat lambat terjadi jika CS hadir setelah UCS (backward conditioning/ backward pairing/ pemasangan mundur). 

     Dapat disimpulkan, bahwa classical conditioning yang kuat biasanya terjadi jika:     Dapat disimpulkan, bahwa classical conditioning yang kuat biasanya terjadi jika:

 

-          terdapat pengulangan pemasangan CS-UCS

-          UCS lebih intensif/ lebih kuat

-          Rangkaian meliputi pemasangan maju (forward pairing)

-          Interval waktu yang singkat antara CS dan UCS

Extinction (pemunahan) and spontaneous recovery (pemulihan spontan)

Fungsi classical conditioning adalah membantu organisma beradaptasi dengan lingkungannya. Apabila  suatu CR tidak lagi dibutuhkan, maka respons tersebut dapat dihilangkan melalui pemunahan (extinction). Extinction merupakan suatu proses dimana CS dihadirkan berulang-ulang tanpa disertai UCS. Hal ini menyebabkan CR melemah dan pada akhirnya hilang/ punah. Setiap kehadiran CS tanpa UCS disebut extinction trial. Ketika Pavlov secara berulang-ulang membunyikan bel tanpa disertai makanan, sang anjing pada akhirnya tidak berliur saat bel berbunyi. Namun, hal ini tidak berarti jejak pembelajaran hilang sama sekali. Karena di kesempatan lain, saat bel dibunyikan kembali, sang anjing berliur kembali. Hal ini disebut pemulihan spontan (spontaneous recovery): muculnya kembali CR yang sebelumnya telah punah setelah periode istirahat, dan tanpa adanya percobaan pembelajaran (learning trials) yang baru.

 

Generalisasi dan Diskriminasi (untuk animasi silakan buka: www.gyed.mhcls.com/connectext/psy/ch06/watson.mhtml)

            Generalisasi dalam classical conditioning merupakan suatu kecenderungan stimulus baru yang serupa dengan CS yang asli untuk membangkitkan suatu respons yang serupa dengan CR. Dengan prinsip generalisasi ini, kita tidak perlu lagi belajar mengendarai motor/ mobil saat kita berganti kendaraan atau saat berkendara ke tempat yang berbeda.

Generalisasi stimulus tidak selalu menguntungkan. Misalnya: kucing yang menggeneralisasikan ikan kecil dengan ikan piranha tentunya menjadi sulit mencari makan. Karenanya melakukan diskriminasi antara stimulus merupakan hal yang penting. Diskriminasi dalam classical conditioning adalah proses belajar untuk berespon terhadap stimulus tertentu dan tidak berespon terhadap stimulus lainnya.  Untuk menghasilkan diskriminasi, Pavlov memberikan makanan ke anjing hanya setelah bel berbunyi dan tidak setelah bunyi-bunyi lainnya. Melalui cara ini, anjing belajar untuk membedakan antara bel dan bunyi-bunyi lainnya.

Classical Conditioning pada Manusia

Phobia (baca: fobia) merupakan ketakutan yang irasional. Salah satu eksperimen yang menggunakan classical coniditioning adalah eksperimen yang kemudian disebut “Little Albert”. Melalui eksperimen ini, John Watson membuktikan bahwa rasa takut bisa dikondisikan atau dibuat. Dalam eksperimen ini, Watson memperlihatkan seekor tikus putih kepada Albert, bayi laki-laki berusia 11 bulan. Saat Albert bermain dengan putih tikus tersebut, dibunyikanlah bel/ bunyi yang memekakakkan telinga yang membuat Albert kaget dan takut. Setelah tujuh kali pemasangan tikus putih – bunyi, Albert menunjukkan rasa takut pada tikut tersebut bahkan saat tidak ada bunyi yang memekakkan telinga. Rasa takut itu kemudian digeneralisasikan terhadap kelinci, anjjing, dan jaket kulit. Eksperimen yang dilakukan pada tahun 1920 ini pada saat ini dianggap melanggar kode etik. Watson telah membuat Albert takut pada benda yang berbulu yang mana ketakutan ini mungkin akan terus dialami setelah eksperimen berakhir.  

Counterconditioning adalah prosedur classical conditioning yang dilakukan untuk melemahkan  suatu CR dengan mengasosiasikannya dengan stimulus yang menimbulkan rasa takut (fear-provoking stimulus) dengan suatu respons baru yang bertentangan dengan rasa takut tersebut. Mary Cover Jones pada tahun 1924, berhasil menghilangkan rasa takut pada anak laki-laki berusia 3 tahun, Peter. Peter  serupa dengan Albert takut terhadap tikut putih, jaket kulit, katak, ikan, dan mainan mekanik. Untuk menghilangkan rasa takut ini, Jones membawa seekor kelinci dalam jangkauan pandangan Peter namun pada jarak yang cukup jauh sehingga tidak membuat Peter merasa terganggu. Bersamaan dengan dibawanya Kelinci ini, Peter diberikan biskuit dan susu. Pada hari berikutnya, kelinci dibawa lebih dekat ke Peter saat Peter makan biskuit dan minum susu. Hingga pada akhirnya, Peter berhasil memegangan kelinci dengan satu tangannya, sedangkan tangan yang lain memegang biskuit yang ia kunyah.  Rasa senang yang ditimbulkan dari biskuit dan susu berlawanan/ bertentangan dengan rasa takut yang disebabkan kelinci, dan rasa takut Peter kemudian hilang/ padam melalui counterconditioning.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nama: _____________________________

NPM:   ______________________________

 

Latihan  Psikologi Umum 2 (Learning/ Classical Conditioning)

 

Sebutkan konsep (acquisition, generalization, discrimination, extinction) apakah dari classical conditiong yang menggambarkan situasi tersebut di bawah ini.

Situasi Pertama

Seorang anak usia 5 tahun belajar merasa takut (CR) pergi ke dokter gigi dengan mengasosiasikan dokter gigi dengan response emosional yang dialaminya yaitu rasa nyeri (UCR) saat giginya yang berlubang ditambal (UCS)

 

Situasi Kedua

 

Anak tersebut takut terhadap semua orang dewasa yang berbaju putih, dan terhadap gedung atau ruangan yang memiliki aroma obat-obatan dan karbol yang kuat.

 

Situasi Ketiga

 

Anak tersebut pergi dengan ibunya ke dokter kulit sang ibu. Anak belajar bahwa dokter tidak berhubungan/ tidak berasosiasi dengan rasa nyeri dari UCS.

 

Situasi Keempat

 

Anak secara teratur ke dokter gigi dan tidak mengalami hal yang menyakitkan/ nyeri. Ketakutan anak tersebut terhadap dokter gigi kemudian menghilang, paling tidak untuk sementara.

 

 Baca juga Santrock (2005). Psychology: Updated seventh edition. McGraw Hill, NY, chapter7 pp 268-275. dapat dipinjam dari perpustakaan (gedung baru lantai 3)Selamat membaca!! Bila ada yang tidak dimengerti pls kirim pertanyaan ke website ini atau datang ke ruangan saya. Thanks.

 

 

Apakah Psikologi Kesehatan ?

 

Psikologi Kesehatan dikembangkan untuk memahami pengaruh psikologis terhadap bagaimana seseorang menjaga dirinya agar tetap sehat, dan mengapa mereka menjadi sakit dan untuk menjelaskan apa yang mereka lakukan saat mereka jatuh sakit.

Selain mempelajari hal-hal tersebut di atas, psikologi kesehatan mempromosikan intervensi untuk membantu orang agar tetap sehat dan juga mengatasi kesakitan yang dideritanya.

Psikologi kesehatan tidak mendefinisikan “sehat” sebagai tidak sakit. Sehat dilihat sebagai pencapaian yang melibatkan keseimbangan antara kesejahteraan fisik, mental dan sosial. Psikologi kesehatan mempelajari selruh aspek kesehatan dan sakit sepanjang rentang hidup. Psikologi kesehatan fokus pada pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, seperti bagaimana mendorong anak mengembangkan kebiasaan hidup sehat, bagaimana meningkatkan aktivitas fisik, dan bagaimana merancang suatu kampanye yang dapat mendorong orang lain memperbaiki pola makannya.

Psikologi Kesehatan juga mempelajari aspek-aspek psikologis dari pencegahan dan perawatan sakit. Seorang psikologi kesehatan misalnya, membantu mereka yang bekerja di lingkungan yang memiliki tingkat stress yang tinggi untuk mengelola stress dengan efektif, sehingga tekanan yang dialami di lingkungan kerja tidak mempengaruhi kesehatan mereka. Seorang psikolog kesehatan juga dapat bekerja dengan mereka yang sedang menderita suatu penyakit agar dapat menyesuaikan mental dan fisik mereka dengan penyakit tersebut atau untuk mematuhi treatment yang dirancang oleh dokter yang merawatnya.

Psikolog kesehatan juga fokus pada etiologi dan kaitannya dengan kesehatan, sakit dan disfungsi. Etiologi merujuk pada asal dan penyebab sakit, dan psikolog kesehatan secara khusus tertarik pada faktor-faktor perilaku dan sosial yang menyumbang kesehatan dan sakit dan disfungsi. Faktor-faktor tersebut meliputi kebiasaaan yang merusak atau menunjang kesehatan seperti konsumsi alkohol, merokok, olahraga, mengenakan sabuk pengaman, dan cara-cara ‘berkawan’ dengan stress.

Pada akhirnya, psikolog kesehatan menganalisa dan berusaha meningkatkan system perawatan kesehatan dan merumuskannya dalam kebijakan kesehatan. Psikologi kesehatan mempelajari dampak institusi kesehatan dan tenaga medis dan paramedis terhadap perilaku orang dan mengembangkan rekomendasi untuk meningkatakan perawatan kesehatan.   

kemarin malam tepat jam 18.30, Kirana Sarawati Satrio – putri pertamaku – dicabut giginya di Poli Raudah R.S. Islam Cempaka Putih dengan menggunakan anestesi lokal. Dua gigi susu yang berada di rahang bawah depan dicabut karena tunas gigi baru sudah walaupun kedua gigi susu tersebut belum goyang. Drg. Fahlevi Rizal, SpKGA yang selama ini merawat geligi kedua anakku mengatakan apabila kedua gigi susu tersebut tidak dicabut, dua gigi baru tersebut akan tumbuh tidak normal. Kiki - panggilan Kirana – bertanya kenapa gigi teman-temannya bisa copot sendiri, sedangkan giginya harus dicabut? Drg. Levi menjelaskan hal tsb karena tulang gigi kecil dan tidak kuat. drg Levi menganjurkan agar mulai sekarang kiki dan adiknya – Sarita, yang masih berumur 2 tahun 4 bulan – harus mulai makan yang keras-keras. Kiki dan sasa memang paling malas makan daging. Kalaupun makan, daging tersebut harus disuwir-suwir atau dicacah sehingga memudahkan mereka mengunyah. Kalau mereka masih sulit mengubah kebiasaan makannya, drg Levi menganjurkan mereka makan buah-buahan yang agak keras seperti apel, wortel, ketimun. Jangan dipotong, tapi langsung gigit dalam bentuk buah utuh. Dengan cara demikian, rahang anak-anak akan kuat dan melebar, tidak seperti rahang kiki dan sasa yang memang kecil. Kiki dan sasa memang sejak kecil malas benar makan yang keras-keras. Kalau anak kecil lainnya suka makan biskuit, anak-anak saya paling gak suka makan biskuit atau cemilan lainnya, kecuali ‘makanan tidak sehat’ seperti…tau lah apa saja yang disebut makanan tidak sehat itu..

Sasa juga diharuskan pisah dengan spout tercinta (padahal baru dua bulan ini sukses mengganti dot dengan spout tersebut). Ia harus minum susu langsung dari gelas, paling tidak dengan sedotan.. goodbye bottles and spouts.. soalnya sudah ada indikasi giginya agak maju.

Tapi mereka anak2 yang berani. Tidak nangis sama sekali saat geligi mereka ditindak. walaupun sasa sempat tegang..bolak-balik minta pipis dan keluar ruang praktek. Kiki bolak balik tanya ke oom dokter: “Sakit gak?”… gak lama kemudian..dia bilang lagi..”kiki takut..”..gak lama lagi bilang “jangan sakit-sakit ya, oom”. Sang oom dokter lama-lama bete juga..dan bilang ke Kiki “Oke, kalau kiki gak mau dicabut, mau giginya nanti kayak Tukul?!” Aku ketawa, sambil bilang “Dok, Kiki gak tau Tukul”. Anak2ku jarang sekali nonton siaran TVRI atau swasta, biasanya mereka nonton acara TV Cable atau dari VCD/ DVD, supaya ortu jadi lebih gampang ngontrol… Meski Kiki gak kenal Tukul, gertakan tersebut berhasil juga. Kiki terdiam, dan proses berjalan dengan lancar.

Begitu pula dengan Sasa, yang akhirnya jadi ngobrol sama si oom dokter ini, walaupun dengan mulut menganga selama geliginya disikat. Sasa paling males disikat giginya. Maunya, sikat gigi sendiri..yaa..gak bersih lah.

Setelah urusan geligi selesai, akhirnya mendapat balon jari, balon yang dibuat dari sarung tangan karet oom dokter, plus kalung emas (imitasi lah..). Kiki begitu senangnya dapet kalung, dan di mobil sambil terngantuk-ngantuk dia menggumam..” dr. levi kaya banget ya, ma. Setiap anak perempuan dikasih kalung emas”.hemm, saya cuma bisa mesem ingat bill yang dibayar tadi.

SOFT SKILLS: BEKAL MEMASUKI DUNIA KERJA

 

 

 

Soft skills atau sering disebut people skills merupakan kemampuan intrapersonal dan interpersonal, yang antara lain meliputi sikap optimistik, bersahabat, mampu berkomunikasi secara efektif baik secara lisan maupun tulisan, serta beretika dan santun. Soft skills menunjang hard skills yang merupakan aspek keilmuan dan pengetahuan dari bidang yang ditekuni (misalnya matematika, ekonomi, biologi, dan lain sebagainya.

 

Seseorang yang ‘pintar’ (berilmu tinggi) namun tidak menguasai soft skills akan mengalami kesulitan saat masuk dan berkecimpung di dunia kerja. Mereka mungkin mengalami kesulitan saat harus mengekspresikan ide-ide dan pendapatnya yang brilliant sehingga dapat dipahami oleh atasan, dan rekan kerjanya. Mereka akan mengalami kesulitan saat harus bekerja dalam kelompok, dimana toleransi dijunjung tinggi, dan kemampuan mendengarkan dan bekerja sama diutamakan.

 

Mengingat pentingnya peran soft skills dalam menunjang keilmuan seorang lulusan perguruan tinggi, maka Fakultas Psikologi Universitas YARSI merancang dan melaksanakan kegiatan belajar dengan metode yang dapat mengembangkan dan melatih keterampilan interpersonal dan keterampilan intrapersonal pada setiap peserta didik. Kegiatan diskusi dilakukan di ruang kelas untuk membahas masalah dan pertanyaan yang berkaitan dengan materi kuliah yang telah diberikan oleh pengajar/ dosen. Kegiatan diskusi ini melatih peserta didik untuk bekerja sama, melatih mendengarkan pendapat dan memahami sudut pandang orang lain yang mungkin berbeda dengan dirinya, melakukan analisa dan merangkum pendapat anggota kelompok secara tertulis dan kemudian mempresentasikannya secara lisan di ruang kuliah.

 

Selain di dalam ruang kuliah, Fakultas Psikologi Universitas YARSI memberikan pelatihan-pelatihan yang dapat mengoptimalkan potensi peserta didik, seperti Pelatihan “Character Building” yang diadakan 13 Februari 2008. Pelatihan “Character Building” dilakukan dengan tujuan membantu peserta didik lebih mengenal dirinya, termasuk mengenali kekuatan dirinya serta potensi dirinya yang masih perlu dikembangkan. Dengan mengenali dirinya, dan komponen-komponen lingkungan yang mendukung pengembangan dirinya, peserta didik didorong untuk bersikap optimistik. Selain Pelatihan “Character Building”, Fakultas Psikologi Universitas YARSI juga mengadakan Workshop “Penulisan Karya Ilmiah” untuk lebih mengenal apa yang dimaksud dengan suatu karya ilmiah. Dengan lebih mengenal dan mengetahui proses pembuatan karya ilmiah, diharapkan akan membantu peserta didik dalam menulis makalah dan merancang usulan penelitian serta melaksanakan penelitian tersebut sebagai tugas kuliah dan juga mempersiapkan diri menulis skripsi sebagai persyaratan kelulusan studi dan menjadi Sarjana Psikologi yang handal dan terampil.

Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik meningkat hingga lebih dari 140 mm Hg dan tekanan darah diastolik meningkat hingga lebih dari  90 mm Hg. Meningkatnya tekanan darah juga berdampak pada meningkatnya resiko terkena penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung atau stroke. Hipertensi yang tidak ditangani dengan baik dapat mempengaruhi fungsi kognitif, mengalami masalah dalam pembelajaran, mengingat, atensi, berpikir abstrak, fleksibilitas mental dan kemampuan kognisi lainnya. Masalah-masalah ini tentu merupakan masalah yang signifikan bagi penderita hipertensi yang berusia produktif.

            Prevalensi penyakit hipertensi yang tergolong tinggi, bukan hanya terjadi di negara-negara maju di Amerika Utara dan di Eropa, namun juga di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia. Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga yang dilakukan pada tahun 1995, prevalensi penyakit hipertensi mencapai 83 per 1000 anggota rumah tangga (Astawan, 2006). Sedangkan Yayasan Jantung Sehat (2007) mencatat berdasarkan studi MONICA 2000 di Jakarta dan FKUI 2000-2003 di daerah Lido pedesaan kecamatan Cijeruk bahwa terdapat 20,9% dan 16,9% dari jumlah penduduk di wilayah tersebut yang menderita hipertensi kategori II menurut JNC VII. Dari angka tersebut, hanya 13,3% dan 4,2% yang menjalani pengobatan (Yayasan Jantung Indonesia, http://www.inaheart.or.id).

Pada saat ini, pengobatan medis merupakan terapi utama yang digunakan untuk menjaga tekanan darah. Namun, Reed et al (2006) menemukakan bahwa dari 90% pasien hipertensi yang menerima terapi farmako, hanya 45,6% yang berhasil mencapai tekanan darah di bawah 140/90 mm Hg. Sekitar 44% dari mereka mengalami lost therapeutic benefit. Belum diketahui penyebab pasti dari tidak berfungsinya terapi farmako terhadap pasien hipertensi tersebut. Kegagalan ini bisa terjadi karena masalah treatment, seperti dosis yang tidak adekuat dari agen tunggal, atau tidak diberikannya agen kedua atau ketiga yang dapat memberikan efek yang menguntungkan. Kemungkinan lain dari penyebab kegagalan terapi farmako adalah adanya masalah yang berakar pada pasien itu sendiri (patient-centered issue).

Kondisi demikian memperlihatkan bahwa suatu penyakit tidak dapat dilihat dari segi biologisnya saja namun perlu juga dilihat faktor psikologis dan sosial budaya yang mempengaruhinya. Menurut Model Psikobiososial, penyakit kronis merupakan hasil interaksi yang kompleks antara faktor-faktor biologis, psikologis (faktor individual), dan sosial budaya (faktor sosial). Untuk dapat memahami keputusan pasien untuk tidak mematuhi (atau mematuhi) treatment yang telah ditentukan, maka penting dilakukan analisa terhadap faktor individual dan faktor sosial yang mendorong hasrat dan intensi yantuk melakukan perilaku tersebut seperti yang digambarkan oleh Teori Perilaku yang Terencana (Theory of Planned Bahvior/ TpB) seperti yang terlihat pada Gambar 1.

 

 

 

Teori Perilaku yang Terencana (Theory of Planned Behavior/ TpB)

Gambar 1 memperlihatkan bahwa hasrat untuk melakukan tingkah laku yang bertujuan, dalam hal ini melakukan perilaku yang mendukung keberhasilan dalam mengelola tekanan darah, sangat tergantung pada bagaimana individu menilai diri dan lingkungan sosialnya. Dalam mengambil keputusan untuk melakukan suatu aksi, seseorang sangat dipengaruhi oleh keyakinannya akan hasil yang akan diperoleh bila melakukan aksi tersebut (keyakinan perilaku/ behavioral beliefs); keyakinan mengenai ekspektasi normatif orang lain dan motivasi untuk patuh terhadap ekspektasi tersebut (keyakinan normatif/ normative beliefs); dan terakhir adalah keyakinan adanya faktor-faktor yang dapat mendukung atau menghambat performa aksi dan bagaimana individu memandang kekuatan dirinya dalam menghadapi faktor-faktor tersebut (keyakinan kendali/ control beliefs) (Ajzen, 2006).

Secara umum, keyakinan akan hasil yang dapat diperoleh sikap yang positif (favorable) atau sikap negatif (unfavorable) terhadap suatu aksi. Keyakinan normatif menghasilkan pandangan tentang tekanan sosial yang dialaminya atau yang disebut norma subyektif. Sedangkan keyakinan akan kemampuan dan kekuatan dirinya dalam mengendalikan situasi menghasilkan perceived behavioral control, yaitu persepsi mengenai sulit atau mudahnya melakukan tingkah laku tertentu.

Kombinasi sikap terhadap kepatuhan, norma subyektif, dan persepsi akan kontrol perilaku secara bersama-sama membentuk intensi perilaku untuk patuh terhadap pengobatan. Semakin favorable sikap dan norma subyektif, dan semakin tinggi perceived behavioral control yang dimiliki, maka semakin kuat intensi individu untuk menampilkan perilaku patuh. Pada akhirnya, dengan dengan kontrol aktual dari suatu perilaku, individu diharapkan dapat melaksanakan intensi mereka saat ada kesempatan. Karenanya, intensi merupakan anteseden langsung dari suatu perilaku. Namun, karena banyak perilaku mengalami kesulitan eksekusi yang mungkin membatasi kontrol kemauan, maka perceived behavioral control dapat berperan langsung dalam mempengaruhi intensi melakukan suatu aksi dan bahkan dapat langsung mempengaruhi terlaksananya suatu perilaku. 

 

Gambar 1. Representasi skematik dari Theory of Planned Behavior (dikutip dari Ajzen, 2006)

Control Beliefs

Behavioral beliefs

Perceived Behavioral Control

Normative Beliefs

Subjective norm

Attitude toward

 the behavior

Actual Behavioral Control

Behavior

Intention

Seperti yang dilihat dari representasi skematik TpB, maka aspek-aspek yang mempengaruhi intensi untuk beraksi, sangat dipengaruhi oleh cara individu menilai diri, termasuk kemampuan dan kekuatan dirinya dan bagaimana ia menilai tekanan orang lain sebagai suatu hal yang mendukung (positif) atau menghambat (negatif) terlaksananya perilaku yang direncanakan, seperti taat minum obat. Di sisi lain, penilaian individu akan dirinya sangat tergantung pada pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan selama ini.

Terdapat perbedaan individual dalam bereaksi dan mengendalikan diri terhadap stimulus lingkungannya. Satu stressor seperti terjebak dalam kemacetan lalu lintas bisa memberikan ketegangan yang berbeda pada setiap orang yang kemudian menampilkan reaksi yang beragam. Ada yang tidak henti-hentinya memaki, terus menerus melihat jam, membunyikan klakson dan semakin merasa marah. Yang lain, tetap bersikap tenang, menyalakan radio dan menikmati lagu-lagu yang diputar di radio. Perbedaan individual dalam bereaksi terhadap lingkungannya sangat dipengaruhi oleh temperamen yang dimilikinya (Rothbart, Ahadi, dan Evans, 2000).  

 

Temperamen sebagai faktor individual

Temperamen berbasis konstitusional, artinya temperamen merupakan suatu mekanisme biologis yang secara alamiah dimiliki oleh manusia sebagai suatu organisma. Menurut basis konstitusional, temperamen merupakan suatu susunan biologis yang terdiri dan tersusun dari jejaring saraf. Unsur reaktivitas pada temperamen merujuk pada kegairahan (excitability), responsivitas, atau keterbangkitan (arousability) sistem fisiologis dan perilaku organisma. Sedangkan istilah pengendalian diri merujuk pada proses yang terjadi pada susunan saraf yang berfungsi mengatur reaktivitas. Rothbart (2004) menjelaskan bahwa sensitivitas dan intensi reaksi yang ditampilkan seseorang sangat terkait dengan sejauh mana ia mampu mengarahkan dan mengendalikan dirinya untuk mencapai tujuan. Karena berbasis biologis dan faali, maka temperamen selain bersifat abadi, juga dipengaruhi oleh hereditas, kematangan dan pengalaman.

            David Evans dan Mary Rothbart telah bersama-sama selama dua dasawarsa melakukan rangkaian studi mengenai temperamen pada bayi hingga dewasa. Mereka menemukan bahwa temperamen pada orang dewasa tersusun dari empat faktor: pengendalian diri (effortful control), kegairahan (extraversion/ surgency), afek negatif (negative affect), dan sensitivitas kognitif.

Faktor kegairahan (extraversion/ surgency) yang tinggi pada temperamen ditampilkan oleh seseorang yang memiliki tingkat aktivitas yang tinggi. Ia senang bergerak dan melakukan hal atau kegiatan yang dapat memicu kerja kelenjar adrenalin. Studi yang dilakukan oleh Rhodes dan Courneya (2003) menunjukkan penderita kanker yang memiliki kepribadian ekstraversi cenderung berhasil melakukan kegiatan fisik/ olahraga seperti yang dianjurkan oleh dokter/ tenaga medis. Seseorang dengan kegairahan yang tinggi juga selalu tampak gembira, dan senang bersosialisasi.

Faktor kegairahan berlawanan dengan faktor afek negatif. Individu dengan afek negatif yang tinggi cenderung sulit beradaptasi dengan situasi baru, mudah merasa takut dan frustrasi, tampak murung dan sedih. Faktor temperamen yang terakhir adalah sensitivitas kognitif. Dengan sensitivitas kognitif yang tinggi, seseorang mampu mempersepsikan stimulus dari lingkungan ekstrenal maupun internal meskipun intensitasnya lemah dan rendah. Ketidaknyamanan dan perubahan kecil pada tubuh akan cepat dirasakan individu yang memiliki sensitivitas kognitif yang tinggi.

Terakhir, adalah faktor pengendalian diri. Rothbart dan Jones (1998) menegaskan bahwa pengendalian diri merupakan hal yang sangat penting dalam memahami pengaruh temperamen terhadap tingkah laku. Tidak semua orang tunduk pada kecenderungan afek negatif dan kegairahan (surgency) untuk menjauhi dan mendekati situasi/ stimulus, hanya karena adanya sanksi (punishment) dan ganjaran (rewards). Individu dengan pengendalian diri yang baik dapat mengalihkan perhatiannya apabila diperlukan dan tidak selalu terdorong untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan dirinya. Seseorang dengan pengendalian diri yang baik, akan tetap dapat memusatkan perhatian dan usaha untuk mencapai tujuannya, walaupun ia harus melakukan hal-hal yang tidak memberi kesenangan pada dirinya.

Pengendalian diri yang menggambarkan kemampuan individu dalam mengendalikan emosi banyak dipengaruhi oleh lingkungan sosial (Rothbart, 2004). Pengaturan emosi merupakan suatu proses sosial dan bukan semata-mata proses intraindividual. Di satu sisi, pengungkapan emosi melalui perilaku tertentu dianggap salah atau benar sangat tergantung pada bagaimana lingkungan sosial menilai perilaku tersebut. Di sisi lain, kesesuaian cara seseorang mengekspresikan emosinya dalam suatu perilaku dengan norma lingkungan sosialnya, sangat dipengaruhi oleh paparan yang dilihat, didengar, dan dirasakannya sejak dini (Campos, Campos, & Barrett, 1989). John Locke (dalam Eisenberg, 2004) berpendapat bahwa lingkungan terdekat yang memberikan paparan tersebut dan memberikan model paling bermakna dalam mengekspresikan emosi kepada anak adalah orangtua.

Kemampuan mengendalikan diri, termasuk di antaranya mengendalikan intensitas dan reaktivitas emosi merupakan hal yang penting dalam pencegahan hipertensi dan pengelolaan tekanan darah. Tanpa pengendalian diri yang baik, reaktivitas emosional akan bersinergi dengan reaktivitas fisiologis, mengakibatkan perubahan otoregulasi lokal dari aliran darah. Apabila hal ini terjadi terus menerus (kronis), maka dapat meningkatkan resistensi vaskular dan pada akhirnya menyebabkan respons yang lebih besar terhadap setiap peningkatan tekanan darah. Dengan semakin meningkatknya tekanan dan ketegangan dinding arteri, individu akan semakin rentan terhadap hipertensi dan penyakit-penyakit kardiovaskular lainnya (Lovallo & Gerin, 2003).  

Temperamen dan Hipertensi

Sejumlah penelitian menunjukkan hubungan antara temperamen tertentu dengan penyakit kardiovaskular (CVD). Denolett (2005) menemukan bahwa prevalensi pasien yang memiliki afek negatif yang tinggi dan emosinya terhambat lebih tinggi pada pasien hipertensi. Mereka yang memiliki afek negatif yang tinggi cenderung merasa tidak bahagia, merasa kawatir, dan mudah tersinggung. Individu dengan inhibisi sosial yang tinggi cenderung menghambat munculnya perasaan/ emosi yang sebenarnya. Inhibisi emosional berkaitan dengan meningkatnya reaktivitas kardiovaskular, menurunnya pemulihan kardiovaskular dan variabilitas detak jantung (Denolett, 2005).

Individu dengan inhibisi sosial yang tinggi juga melihat lingkungan sosialnya sebagai sesuatu yang mengancam dan menakutkan dan menunjukkan hipereaktivitas fisiologis saat berada dalam kondisi dimana ia harus berinteraksi dengan lingkungannya. Kuatnya hubungan inhibisi sosial terhadap penyakit hipertensi dan penyakit kardiovaskular lainnya didukung oleh studi yang dilakukan oleh Williams, Nieto, Sanford, & Tyroler (2001). Williams et al (2005) menunjukkan bahwa mereka yang memiliki temperamen marah (angry temperament) lebih rentan terserang hipertensi dan serangan jantung daripada mereka yang pemarah (anger in reaction).

Sebaliknya, Ostir, Berges, et al (2006) menemukan bahwa emosi positif yang ditunjukkan oleh penderita hipertensi berusia lanjut mampu menurunkan tekanan darah diastolik secara signifikan. Demikian pula pasien kanker yang memiliki temperamen extraversion/ surgency yang tinggi memiliki intensi yang kuat untuk melakukan aktivitas fisik yang diharapkan.

Dukungan Sosial

Lingkungan sosial yang mendukung akan mengurangi ketegangan yang dialami oleh individu yang memiliki kecemasan tinggi saat harus berinteraksi dengan lingkungan tersebut. Namun, siapa yang dapat berperan sebagai pendukung/ support berbeda untuk setiap orang yang memiliki temperamen tertentu. Kagee dan van der Merwe (2006) menemukan bahwa layanan hipertensi yang tersedia di komunitas dengan tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah di lima kota di Afrika Selatan tidak berhasil meningkatkan kepatuhan pasien terhadap treatment yang ditentukan. Kagee dan van der Merwe melihat bahwa pasien hipertensi pada daerah-daerah tersebut memiliki tekanan psikologis yang lebih besar dan terdapat prevalensi gejala depresi yang lebih tinggi daripada penduduk di daerah yang lebih sejahtera.

Diperlukan penelaahan yang mendalam tentang orang-orang yang dianggap memiliki signifikansi yang tinggi dalam memberikan dukungan sosial terhadap pasien untuk patuh terhadap treatment yang telah ditentukan. Dukungan yang diberikan oleh orang-orang yang tidak memiliki nilai signifikansi yang tinggi bagi si pasien tidak akan mempengaruhi intensi pasien tersebut untuk patuh, bahkan dapat dianggap sebagai ancaman yang akhirnya membuat pasien menjadi tidak termotivasi untuk mencapai tujuan. Seperti yang dikemukakan Denolett (2005) bahwa individu yang memiliki afek negatif dan inhibisi sosial yang tinggi melihat lingkungan sosialnya sebagai sesuatu yang mengancam dan menakutkan. Dorongan orangtua dan pasangan agar pasien hipertensi rajin minum obat, dapat dipersepsikan sebagai ancaman oleh pasien yang memiliki afek negatif dan inhibisi sosial yang tinggi dan mengalami konflik dengan orangtua dan pasangannya tersebut, namun dianggap sebagai suatu dukungan bagi pasien yang melihat orangtua dan suami/ istrinya sebagai orang-orang yang sangat berarti dan sangat ingin melihat ia sembuh.

Berdamai dengan Stress

Hipertensi merupakan suatu bentuk reaktivitas fisiologis terhadap reaktivitas atau ketegangan emosional (stress) saat menghadapi stimulus yang dianggap mengancam (stressor). Karenanya, diperlukan bimbingan terhadap pasien hipertensi untuk coping atau berdamai dengan stress. Coping merupakan proses dimana seseorang mencoba untuk mengelola diskrepansi persepsi antara tuntutan dan sumber daya yang dimiliki yang mereka nilai pada situasi yang menekan. Tiga metode coping yang perlu diketahui adalah:

-         Selalu melihat hikmah di balik suatu peristiwa (positive reappraisal);

-         Mempertahankan emosi positif;

-         Melakukan pendekatan emosional dengan secara aktif mengolah (”saya harus berhenti dulu. Apa yang membuat saya saat ini merasa marah?”) dan kemudian mengekspresikan perasaan mereka (”saya perlu waktu untuk mengekspresikan emosi saya”).

            Stress management therapy perlu dilakukan oleh mereka yang dalam kesehariannya rentan dengan situasi atau kondisi yang menekan. Salah satu terapi yang populer adalah progessive muscle relaxation. Emund Jacobson (dalam Sarafino, 2006) berpendapat bahwa ketegangan otot dapat dikendurkan bila individu belajar memperhatikan sensasi saat menegangkan dan mengendurkan otot-otot. Stress management therapy juga dilakukan dengan menggunakan pendekatan kognitif, dengan merestrukturisasi pola pemikiran atau keyakinan yang keliru (”can’t-stand-itis”; ”musterbating”) seperti yang dilakukan pada terapi kognitif. Pendekatan kognitif lainnya adalah problem-solving training dan stress-inoculation training. Pada problem-solving training, pasien belajar suatu strategi untuk mengidentifikasi dan menemukan cara-cara yang efektif untuk mengatasi masalah. Sedangkan pada prosedur stress-inoculation training, pasien diajarkan keterampilan untuk mengurangi stress dan untuk mencapai tujuan personal. 

Kesimpulan

            Model biopsikososial perlu diadopsi oleh tenaga medis dan tenaga paramedis dalam merancang suatu treatment yang tepat bagi pasien hipertensi. Selain mempertimbangkan faktor biologis, treatment harus dirancang dan disusun secara personal dengan mempertimbangkan temperamen pasien (faktor individual) dan dukungan sosial (faktor sosial) yang dimiliki pasien tersebut. Seseorang dengan afek negatif yang tinggi kurang dapat diharapkan memiliki intensi yang kuat melakukan aktivitas fisik dengan intensitas yang tinggi. Hasil yang berbeda diperoleh apabila tuntutan yang sama diberikan kepada mereka yang memiliki afek positif dan surgency yang tinggi, yang memiliki dorongan yang kuat untuk bergerak dan beraktivitas.

Perlu dilakukan pula penelaahan terhadap dukungan sosial yang tepat dan tersedia untuk penderita hipertensi, karena ekspektasi atau harapan dari orang-orang dicintai akan mendorong terbentuknya norma subyektif yang positif terhadap keberhasilan pencapaian tujuan, yaitu kepatuhan terhadap treatment yang telah ditetapkan. Wawancara yang bersifat motivasional (motivational interview) perlu dilakukan untuk membantu individu mengeksplorasi kemampuan dan kekuatan dirinya dan mengatasi ambivalensi dalam perubahan perilaku hingga ia tetap bertahan dalam proses hingga mencapai tujuan. Pasien juga perlu menerima pengetahuan seluas-luasnya mengenai apakah hipertensi, penyebabnya, serta cara-cara pencegahan dan pengelolaan hipertensi dengan bahasa yang mudah dipahami. Pengetahuan yang dimiliki akan sangat membantu individu untuk menilai apa yang dapat dan yang masih sulit dilakukan sehingga berpotensi menghambatnya mencapai tujuan yang diinginkan.  

Pencegahan jauh lebih efektif dan ekonomis daripada pengobatan. Program preventif perlu dilakukan oleh mereka yang memiliki riwayat anggota keluarga menderita hipertensi. Gaya hidup sehat perlu diamalkan sejak dini. Keterampilan mengelola stress perlu ditingkatkan. Faktor-faktor psikososial, seperti stress kronik, temperamen marah dan kecemasan (afek negatif) perlu dikenali dan diantisipasi sejak dini. Temperamen bersifat predisposisional yang diturunkan secara genetik. Kecenderungan seseorang untuk menampilkan reaktivitas dan intensitas fisiologik dan emosi sebenarnya telah dapat diukur sejak dini bahkan sejak usia 6 bulan. Orangtua perlu memberikan perhatian penuh terutama kepada anak yang sejak dini telah terlihat memiliki kecenderungan untuk menjauh dari suatu situasi, jarang memperlihatkan senyum dan tawa, dan lebih sering menangis dan menolak saat didekati. Tingkah laku tersebut menunjukkan bahwa anak memiliki kecenderungan menampilkan afek negatif, yang rentan mengalami stress kronik saat dewasa nanti. Namun, apabila orangtua dapat memberikan dan menyediakan pola pengasuhan yang mendukung, dimana orangtua menampilkan pengendalian emosi yang baik dan juga memberikan anak pengalaman-pengalaman emosional yang positif saat anak mengekspresikan reaktivitas emosi, maka anak diharapkan dapat belajar dan mampu mengendalikan intensitas dan reaktivitas emosi dengan lebih baik. Dengan kemampuan mengendalikan intensitas dan reaktivitas emosi yang baik, maka hipereaktivitas fisiologik secara kronis – yang merupakan salah satu pemicu hipertensi – dapat dicegah.