Uncategorized


ABSTRACT

         

          The study investigated the contributions of the individual and social factors in determining loneliness in pre-adolescents and adolescents who perceived by their classmates had been experiencing peer victimization. The individual factors involved self-esteem and temperament. The temperament itself was measured in four factors, which were surgency, effortful control, affiliativeness, and negative affectivity. The measured social factors were peer acceptance, the quality of friendship, and parenting style. Participants were 146 fifth (pre-adolescents, M = 9.74 years old) and 184 ninth grade (adolescents, M = 13.5 years old) students whose according their classmates had been victimized in classroom/ school setting.

There were negative correlations between peer-report victimization intensity and peer acceptance found in each group participants. Further, regression analysis found significant differences of how the individual and social factors determining loneliness in each group. Self esteem was the only variable in the individual factor which significantly contributed to loneliness in peer-perceived victimized pre-adolescents. Self esteem itself was positively related with effortful control and affiliativeness factors of temperament.

In peer perceived victimized adolescent group, however, the surgency factor of the temperament (individual factors) together with having nurtured parents and good quality of friendship (social factors) were found to contribute negatively to the self-reported loneliness.

Small contribution of self esteem to the variability of loneliness in pre-adolescents, however, cautiously indicated that there were other factors which were not included in the study.

 

(To be presented in the 2nd convention of APsyA, 26-28 June 2008, Kuala Lumpur)

kemarin malam tepat jam 18.30, Kirana Sarawati Satrio – putri pertamaku – dicabut giginya di Poli Raudah R.S. Islam Cempaka Putih dengan menggunakan anestesi lokal. Dua gigi susu yang berada di rahang bawah depan dicabut karena tunas gigi baru sudah walaupun kedua gigi susu tersebut belum goyang. Drg. Fahlevi Rizal, SpKGA yang selama ini merawat geligi kedua anakku mengatakan apabila kedua gigi susu tersebut tidak dicabut, dua gigi baru tersebut akan tumbuh tidak normal. Kiki - panggilan Kirana – bertanya kenapa gigi teman-temannya bisa copot sendiri, sedangkan giginya harus dicabut? Drg. Levi menjelaskan hal tsb karena tulang gigi kecil dan tidak kuat. drg Levi menganjurkan agar mulai sekarang kiki dan adiknya – Sarita, yang masih berumur 2 tahun 4 bulan – harus mulai makan yang keras-keras. Kiki dan sasa memang paling malas makan daging. Kalaupun makan, daging tersebut harus disuwir-suwir atau dicacah sehingga memudahkan mereka mengunyah. Kalau mereka masih sulit mengubah kebiasaan makannya, drg Levi menganjurkan mereka makan buah-buahan yang agak keras seperti apel, wortel, ketimun. Jangan dipotong, tapi langsung gigit dalam bentuk buah utuh. Dengan cara demikian, rahang anak-anak akan kuat dan melebar, tidak seperti rahang kiki dan sasa yang memang kecil. Kiki dan sasa memang sejak kecil malas benar makan yang keras-keras. Kalau anak kecil lainnya suka makan biskuit, anak-anak saya paling gak suka makan biskuit atau cemilan lainnya, kecuali ‘makanan tidak sehat’ seperti…tau lah apa saja yang disebut makanan tidak sehat itu..

Sasa juga diharuskan pisah dengan spout tercinta (padahal baru dua bulan ini sukses mengganti dot dengan spout tersebut). Ia harus minum susu langsung dari gelas, paling tidak dengan sedotan.. goodbye bottles and spouts.. soalnya sudah ada indikasi giginya agak maju.

Tapi mereka anak2 yang berani. Tidak nangis sama sekali saat geligi mereka ditindak. walaupun sasa sempat tegang..bolak-balik minta pipis dan keluar ruang praktek. Kiki bolak balik tanya ke oom dokter: “Sakit gak?”… gak lama kemudian..dia bilang lagi..”kiki takut..”..gak lama lagi bilang “jangan sakit-sakit ya, oom”. Sang oom dokter lama-lama bete juga..dan bilang ke Kiki “Oke, kalau kiki gak mau dicabut, mau giginya nanti kayak Tukul?!” Aku ketawa, sambil bilang “Dok, Kiki gak tau Tukul”. Anak2ku jarang sekali nonton siaran TVRI atau swasta, biasanya mereka nonton acara TV Cable atau dari VCD/ DVD, supaya ortu jadi lebih gampang ngontrol… Meski Kiki gak kenal Tukul, gertakan tersebut berhasil juga. Kiki terdiam, dan proses berjalan dengan lancar.

Begitu pula dengan Sasa, yang akhirnya jadi ngobrol sama si oom dokter ini, walaupun dengan mulut menganga selama geliginya disikat. Sasa paling males disikat giginya. Maunya, sikat gigi sendiri..yaa..gak bersih lah.

Setelah urusan geligi selesai, akhirnya mendapat balon jari, balon yang dibuat dari sarung tangan karet oom dokter, plus kalung emas (imitasi lah..). Kiki begitu senangnya dapet kalung, dan di mobil sambil terngantuk-ngantuk dia menggumam..” dr. levi kaya banget ya, ma. Setiap anak perempuan dikasih kalung emas”.hemm, saya cuma bisa mesem ingat bill yang dibayar tadi.